Senin, 01 November 2021

GRAMMAR BAHASA INDONESIA TATA KALIMAT

GRAMMAR BAHASA TATA KALIMAT

Kalimat adalah gabungan dari beberapa kata yang mengungkapkan suatu maksud (elspresif). Secara lisan, kalimat diiringi dengan nada bicara, jeda dan intonasi. Secara tertulis, kalimat ditandai dengan huruf kapital dan tanda baca yang sesuai.


A. Kalimat Klausa Dan Kalimat Tak Berklausa

1. Klausa merupakan kalimat yang hanya mengandung satu predikat (S-P-O-K), bersifat manasuka (boleh ada/boleh tidak), misalnya:

a. Bapak direktur besok pagi akan ke Jakarta. (S-K-P)

b. Negara Indonesia berdasarkan Pancasila. (S-P-O)

2. Kalimat tak berklausa merupakan kalimat yang tidak memiliki predikat, misalnya:

a. Astaga!

b. Mas Anang Wijayanto


B. Jabatan Kalimat

1. Subyek (pokok Kalimat); merupakan bagian yang berfungsi sebagai pokok persoalan, Subyek biasa diduduki oleh kata benda atau kara ganti. Ciri-ciri subyek, antara lain:

a. Biasanya diikuti kata itu, contoh: 

• Belajar itu penting bagi para pelajar

• Biasanya diikuti kata ganti empunya

b. d. Bagian yang didahului kata yang, contoh:

• Yang itu pacatnya.

• Yang mengrim surat itu Ana.

c. Berupa jenis kata benda atau kata ganti, contoh:

• Bukumu akan aku pinjam.

• Kepala Sekolah Kita sangat baik.

• Wali kelas kita memang bikjaksana

• Kebaikan harus kita jaga.

d. Biasanya diikuti pun, contoh:

• Itu pun aku mau

• Mereka pun berangkat.


2. Predikat, merupakan bagian kat kerja, dikelompokkan menjadi:

a. Predikat verbal, terdiri dari:

• Berjenis kata kerja, contoh:

Bambang minum.(kata kerjanya tidak memelukan afiks)

Reni menyanyi lagu “kakatua”. (semitransitif / dapat ditambah maupun tanpa obyek)

• Menunjukan suatu perbuatan, contoh:

Sekolah itu memberikan nilai lebih pada siswa kelas XII SMU yang akan menempuh Ujian Nasional.

b. Predikat nominal, terdiri dari:

• Bagian yang menyatakan suatu keadaan, contoh:

Hasil kita belum sempurna.

• Dapat merupakan aspek penanya, contoh:

Siapa yang akan ikut bimbingan?

• Bagian yang didahuli kata kerja bantu (adalah, menjadi, dsb), contoh:

Mbak Iik menjadi tentor bimbingan itu.

• bagian yang diikuti lah, contoh:

Itulah yang aku sesali.


3. Obyek, merupakan bagian yang di kenai predikat / kata kerja, meliputi:

• Berupa kata benda atau kata ganti, contoh:

Inug berhasil memacari cewek cakep.

• Dapat digeser menjadi subyek dalamat aktif-pasif, contoh:

Aktif, contoh: Rudy memacari Linda

Pasif, contoh: Lida dipacari Rudy


4. Ketrangan; merupakan bagian yang berfungsi menerangkan / mejelaskan kalimat, dikelompokkan menjadi:

a. Keterangan tempat, contoh:

• Dewi siswa di Ganesha Study Club.

b. Ketrangan sebab, contoh:

• Ia gagal masuk sekolah favorit, karena malas belajar.

c. Keterangan syarat, didahului kata jika, jikalau, dsb, contoh:

• Dia akan lulus, jika rajin belajar

d. Keterangan keadaan, didahului kata dengan atau diiluti keadaan, contoh:

• Dwika menerima beasiswa dengan gembira

e. Keterangan alat, didahului kata dengan serta diikuti kata benda, contoh:

• Bintang melukis dengan cat minyak.

f. Keterangan waktu, contoh:

• Ayu menerima lamaran hari ini

g. Keterangan tujuant, contoh:

• Saya harus rajin belajar, agar lulus ujian Naional.



C. Bentuk Kalimat

Bentuk-bentuk kalimat dapat dibedakan menjadi:

1. Kalimat Aktif. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan suatu pekerjaan. Biasanya memiliki predikatnya berupa kata kerja berawalan me atau ber. Contoh :

Nina menulis surat untuk nenek.

Cara mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif :

a. Subjek pada kalimat aktif dijadikan objek pada kalimat pasif.

b. Awalan me- diganti dengan di-.

c. Tambahkan kata oleh di belakang predikat. Contoh :

• Bapak memancing ikan. (aktif)

• Ikan dipancing oleh bapak.(pasif)

d. Jika subjek kalimat aktif berupa kata ganti maka awalan me- pada predikat dihapus, kemudian subjek dan predikat dirapatkan. Contoh :

• Aku harus memngerjakan PR. (aktif)

• PR harus kukerjakan. (pasif)


2. Kalimat Pasif. Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan. Biasanya memiliki predikat berupa kata kerja berawalan di-. Contoh :

Surat untuk nenek ditulis oleh Nina.


3. Kalimat Langsung. Kalimat langsung merupakan kalimat yang secara cermat menirukan ucapan orang lain. Bagian kutipan dalam kalimat langsung dapat berupa kalimat tanya atau kalimat perintah. Biasanya ditandai dengan tanda petik ( “....” ). Contoh:

Ibu berkata, “Anis, jangan bermain-main saja, kamu harus belajar !”


4. Kalimat Tidak Langsung. Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan orang lain. Bagian kutipan pada kalimat langsung berubah menjadi kalimat berita. Contoh :

Ibu berkata bahwa aku harus rajin belajar.


5. Kalimat Berita. Kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitahukan sesuatu. Umumnya mendorong orang untuk memberikan tanggapan. Macam-macam kalimat berita: 

a. Kalimat berita kepastian. Contoh : Nenek akan datang dari Bandung besok pagi.

b. Kalimat berita pengingkaran. Contoh : Saya tidak akan datang pada acara ulang tahunmu.

c. Kalimat berita kesangsian. Contoh : Bapak mungkin akan tiba besok pagi.

d. Kalmat berita bentuk lainnya. Contoh : Kami tidak tahu mengapa dia datang terlambat.


6. Kalimat Perintah. Kalimat perintah adalah kalimat yang bertujuan memberikan perintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Dalam bentuk lisan, kalimat perintah ditandai dengan intonasi tinggi. Biasanya diakhiri dengan tanda seru (!). Macam-macam kalimat perintah :

a. Kalimat perintah biasa, ditandai dengan partikel lah.

Contoh : Gantilah bajumu !

b. Kalimat larangan, ditandai dengan penggunaan kata jangan.

Contoh ; Jangan membuang sampah sembarangan !

c. Kalimat ajakan, ditandai dengan kata mohon, tolong, silahkan.

Contoh : Tolong temani nenekmu di rumah !


7. Kalimat Tanya. Kalimat tanya adalah kalimat yang isinya menanyakan sesuatu atau seseorang sehingga diperoleh jawaban tentang suatu masalah. Kalimat tanya mengandung beberapa ciri yang dapat dibedakan dengan kalimat lain, yaitu menggunakan:

a. intonasi (bila diucapkan),

b. partikel tanya kah,

c. tanda tanya (?) bila tertulis,

d. secara lisan dan tertulis dapat menggunakan kata tanya, yaitu untuk menanyakan:

- orang ”siapa” - benda ”apa”

- jumlah ”berapa” - tempat ”di mana”

- waktu ”kapan, bila, bilamana” - keadaan atau situasi ”bagaimana”

- sebab atau alasan ”mengapa, kenapa”

Contoh :

Apakah kamu sakit ?

Siapa yang membeli buku ini ?


8. Kalimat Efektif. kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain kalimat efektif memiliki syarat :

a. Secara tepat mewakili gagasan penulis atau pembicaranya.

b. Menimbulkan gambaran yang sama antara penulis dengan pembaca atau pembicara dengan pendengar.

Ciri-ciri :

a. Memiliki kesatuan gagasan atau ide pokok

b. Menggunakan kata atau frase imbuhan yang memiliki kesamaan.

c. Tidak menggunakan kata-kata yang tidak perlu.

d. Memberikan penekanan pada bagian-bagian yang penting.


9. Kalimat Tunggal. Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari inti kalimat atau satu kalimat. Inti kalimat dibentuk oleh subjek dan predikat. Jenis-jenis kalimat tunggal :

a. Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata benda. Contoh : Saya siswa kelas VI.

b. Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja. Contoh : Adik bernyanyi.

Perluasan kalimat tunggal dilakukan dengan menambah unsur baru yang disebut keterangan. Dapat berupa keterangan tempat, keterangan cara, maupun keterangan waktu. Contoh :

Saya siswa kelas VI di SD Negeri Merdeka.

Adik bernyanyi dengan sangat merdu.


10. Kalimat Inti. Kalimat inti adalah kalimat tunggal yang hanya terdiri dari subyek-predikat (S-P), contoh: Lonceng berbunyi

11. Kalimat Luas. Kalimat luas adalah kalimat yang memiliki unsur inti diperluas tanpa membentuk pola baru. Dapat berupa kalimat tunggal yang diperluas, contoh:

a. Perluasan subyek:

Mas Toni guru fisika kakak Ryan membawa roti ulang tahun di pesta itu.

b. Perluasan predikat:

Mas Toni membawa dengan penih semangat roti ulang tahun di pesta itu.

c. Perluasan obyek:

Mas Toni membawa roti ulang tahun bulat panjang di pesta itu.

d. Perluasan keterangan:

Mas Toni membawa roti ulang tahun di pesta yang sangat meriah itu.

e. Perluasan seluruh unsur:

Mas Toni guru fisika kakak Ryan membawa dengan penih semangat roti ulang tahun bulat panjang di pesta yang sangat meriah itu.


12. Kalimat Mayor. Kalimat mayor adalah kalimat yang mempunyai pola kalimat sempurna, terdapat subyek-predikat,obyek-keterangan, misalnya:

Dwika menemukan serangga langka di hutan Sumatra.


13. Kalimat Minor. Kalimat minor adalah kalimat yang polanya tidak sempurna. Dalam kalimat ini hanya terdapat satu unur pembentuk pola kalimat. Disebut juga kalimat penggalan/elips/eliptis, misalnya:

Pergi!

Besok ?


14. Kalimat Majemuk. Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua kalimat tunggal atau lebih. Kalimat majemuk dapat dibentuk dari paduan beberapa buah kalimat tunggal. Pembentukan kalimat majemuk ada yang memerlukan kata penghubung ada pula yang tidak. Kalimat majemuk dibedakan menjadi

a. Kalimat Majemuk Setara. Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk dimana hubungan antar unsur-unsurnya sederajat. Kalimat majemuk setara terdiri dari :

• Kalimat majemuk penjumlahan ditandai dengan kata sambung lalu, lagi, kemudian, dan. Contoh :

Kakak membaca buku, kemudian menulis surat.

• Kalimat majemuk pemilihan ditandai dengan kata sambung atau. Contoh :

Ibu membeli ikan atau ayam.

• Kalimat majemuk pertentangan ditandai dengan kata penghubung tetapi, melainkan. Contoh :

Ayah tidak pergi ke kantor melainkan ke rumah sakit.

b. Kalimat Majemuk Rapatan. Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk setara yang bagian-bagiannya dirapatkan. Hal tersebut terjadi karena kata-kata yang dirapatkan pada bagianbagian kaliamat itu memiliki fungsi yang sama. Perapatan dilakukan dengan menghilangkan salah satu fungsi kalimat yang sama. Kalimat majemuk rapatan dapat dikelompokkan menjadi:

• Kalimat majemuk rapatan subjek Contoh :

Pak Adi guru mengaji.

Pak Adi ketua RT.

Menjadi; Pak Adi guru mengaji dan ketua RT.

• Kalimat majemuk rapatan predikat. Contoh :

Kiki pandai bermain bola.

Galih pandai bermain bola.

Menjadi; Kiki dan Galih pandai bermain bola.

• Kalimat majemuk rapatan keterangan. Contoh :

Sore hari kakak menyiram bunga.

Sore hari adik menyapu halaman.

Menjadi; Sore hari kakak menyiram bunga dan adik menyapu halaman.

c. Kalimat Majemuk Bertingkat. Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan antar unsur-unsurnya tidak sederajat. Salah satu unsurnya sebagai induk kalimat, sedangkan unsur lainnya sebagai anak kalimat. Jenis-jenis kalimat mejemuk bertingkat :

• Kalimat majemuk hubungan pengandaian, ditandai dengan kata penghubung jika, seandainya, andaikan. 

Contoh : Jika tidak hujan, saya akan datang ke rumahmu.

• Kalimat majemuk hubungan perbandingan, ditandai dengan kata sambung ibarat, seperti, bagaikan, daripada, laksana. 

Contoh : Doni lebih senang bermain sepakbola daripada bermain basket.

• Kalimat majemuk hubungan penyebabab, ditandai dengan kata sambung sebab, karena, oleh karena. 

Contoh : Amir tidak masuk sekolah karena sakit.

• Kalimat majemuk hubungan akibat, ditandai dengan kata sambung sehingga, sampai-sampai, maka. 

Contoh : Ia bekerja terlalu keras sehingga jatuh sakit.

• Kalimat majemuk hubungan cara, ditandai dengan kata sambung dengan. 

Contoh : Sari dapat mempertahankan prestasinya dengan cara berlatih dengan giat.

• Kalimat majemuk hubungan penjelasan, ditandai dengan kata sambung bahwa, yaitu. 

Contoh : Pak Madi telah menggemburkan tanah, yaitu dengan mencangkul tanah itu sampai kedalaman 10 centimeter.

• Kalimat majemuk hubungan waktu, ditandai dengan kata sambung ketika, sewaktu, semasa. 

Contoh : Ibu selesai memasak ketika saya pulang sekolah.

d. Kalimat Majemuk Campuran. Kalimat majemuk campuran merupakan gabungan dari kelimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk campuran dibentuk sekurang-kurangnya oleh tiga kalimat tunggal. Contoh :

Adik selesai mengerjakan PR ketika ayah datang dari kantor dan ibu selesai memasak.



D. Transfomasi Kalimat

Transformasi kalimat merupakan proses mengubah seuatu bentuk kalimat menjadi bentuk kalimat lain, dengan cara:

1. Mengubah urutan subyek-predikatnya

2. Mengubah intonasinya

3. Memperluas ataupun menggabungkan kalimat


Bentuk kalimat transfomasi, antara lain:

1. Tranformasi interogatif / tanya, merupakan transformasi yang menghasilkan kalimat tanya, terdiri dari kalimat tanya berkata tanya, misalnya:

• Bagaimana hasil ujianmu?

• Kapan kamu berangkat ke Jakarta?

2. Tranformasi negatif, merupakan transformasi yang menghasilkan kalimat negatif, misalnya:

• Dia bukan pacarku.

• Beliau tidak berkenan memberi sambutan.

• Pak Bambang tidak datang.

• Cara penyelesaiannya tidak seperti itu.

3. Tranformasi pasif, merupakan transformasi yang menghasilkan kalimat pasif, misalnya

• Risma dicubiti Trinyani.

• Masalah banjir itu harus segera diatasi.

• Ita dioperasi dr. Adi.

4. Tranformasi inverse / balik, merupakan transformasi yang menghasilkan kalimat balik, berpola P-S, misalnya:

• Sudah pergi mereka. * Tidak keberatan kami mengantarnya.

• Tidak tahu-menahu kami akan hal itu.

5. Tranformasi imperatif, merupakan transformasi yang menghasilkan kalimat perintah, misalnya

• Duduklah dengan tenang! * Kerjakan soal-soal berikut ini dengan tulisan yang baik!

• Jangan pergi dulu!

6. Tranformasi perluasan, merupakan transformasi yang menghasilkan kalimat luas. (baca kaliamat luas)

7. Tranformasi gabungan, merupakan transformasi yang menghasilkan kalimat majemuk / gabung, misalnya

• Ibu pergi ke Jakarta dan Bapak ke Bandung

Merupakan gabungan dari kalimat:

• Ibu pergi ke Jakarta

• Bapak pergi ke Bandung


GRAMMAR BAHASA INDONESIA TANDA BACA DAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

GRAMMAR BAHASA INDONESIA TANDA BACA DAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN


A. Pemakaian Tanda Baca

1. Tanda Titik (.)

a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan atau untuk kalimat berita. Misalnya:

• Ayahku tinggal di Solo.

• Biarlah mereka duduk di sana.

• Dia menanyakan siapa yang akan datang.

• Marilah kita mengheningkan cipta.

b. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Misalnya:

• a. III. Departemen Dalam Negri

• B. Direktorat Jendral Agraria

• 1. Patokan Umum

• 1.1 Isi Karangan

• 1.2 Ilustrasi

• 1.2.1 Gambar Tangan

• 1.2.2 Tabel

• 1.2.3 Grafik

Catatan:

Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

c. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu. Misalnya:

• pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

d. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu. Misalnya:

• 1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

• 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)

• 0.0.30 jam (30 detik)

e. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka. Misalnya:

• Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.

f. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. Misalnya:

• Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

• Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

Catatan:

Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Misalnya:

• Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.

• Lihat halaman 2345 dan seterusnya.

• Nomor gironya 5645678.

g. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya. Misalnya:

• Acara Kunjungan Adam Malik

• Salah Asuhan

• Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD'45)

h. Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat atau nama dan alamat penerima surat. Misalnya:

• Jalan Diponegoro 82

• Jakarta (tanpa titik)

• 1 April 1985 (tanpa titik)

• Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)

• Jalan Arif 43 (tanpa titik)

• Palembang (tanpa titik)

Atau:

• Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)

• Jalan Cikini 71 (tanpa titik)

• Jakarta (tanpa titik)


2. Tanda Koma (,)

a. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Misalnya:

• Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

• Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.

• Satu, dua, ... tiga!

b. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan. Misalnya:

• Saya ingin datang, tetapi hari hujan.

• Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

c. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Misalnya:

• Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

• Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

Catatan:

Tanda koma tidak dip akai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jikaanak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya. Misalnya:

Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

Dia lupa akan janjinya karena sibuk.

Dia tahu bahwa soal itu penting.

d. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi. Misalnya:

• ... Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.

• ... Jadi, soalnya tidak semudah itu.

e. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat. Misalnya:

• O, begitu?

• Hati-hati, ya, nanti jatuh.

• Wah, bukan main!

f. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya:

• Kata Ibu, "Saya gembira sekali."

• "Saya gembira sekali," kata Ibu, "karena kamu lulus."

g. Tanda koma dipakai di antara

• nama dan alamat,

• bagian-bagian alamat,

• tempat dan tanggal, dan

• nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:

• Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.

• Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor

• Surabaya, 10 mei 1960

• Kuala Lumpur, Malaysia

h. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya:

• Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949 Tata bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.

i. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. Misalnya:

• W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

j. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Misalnya:

• B. Ratulangi, S.E.

• Ny. Khadijah, M.A.

k. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Misalnya:

• 12,5 m

• Rp12,50

l. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Misalnya

• Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.

• Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.

• Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:

• Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.

m. Tanda koma dapat dipakai—untuk menghindari salah baca—di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. Misalnya:

• Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.

• Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:

• Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.

• Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.

n. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Misalnya:

• "Di mana Saudara tinggal?" tanya Karim.


3. Tanda Titik Koma (;)

a. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. Misalnya:

• Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.

b. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. Misalnya:

• Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran "Pilihan Pendengar".

4. Tanda Titik Dua (:)

a. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika iikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya:

• Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

• Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.

b. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan. Misalnya:

• Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

• Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.

c. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. Misalnya:

• Ketua : Ahmad Wijaya

• Sekretaris : S. Handayani

• Bendahara: B. Hartawan

• Tempat Sidang : Ruang 104

• Pengantar Acara : Bambang S

• Hari : Senin

• Waktu : 09.30

d. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Misalnya:

• Ibu : (meletakkan beberapa kopor) "Bawa kopor ini, Mir!"

• Amir : "Baik, Bu." (mengangkat kopor dan masuk)

• Ibu : "Jangan lupa. Letakkan baik-baik!" (duduk di kursi besar)

e. Tanda titik dua dipakai; di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab suci, di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.Misalnya:

• Tempo, I (1971), 34:7

• Surah Yasin: 9

• Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.

• Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara membina Bahasa Persatuan Kita?, Djakarta: Eresco, 1968.


5. Tanda Hubung (–)

a. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris. Misalnya:

• Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris. Misalnya:

b. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris. Misalnya:

• Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

c. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang. Misalnya:

• anak-anak,

• berulang-ulang,

• kemerah-merahan.

Angka 2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.

d. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal. Misalnya:

• p-a-n-i-t-i-a

• 8-4-1973

e. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan penghilangan bagian kelompok kata. Misalnya:

• ber-evolusi

• dua puluh lima-ribuan (20 x 5000)

• tanggung jawab-dan kesetiakawanan-sosial

Bandingkan dengan:

• be-revolusi

• dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25000)

• tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial

f. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan:

• se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,

• ke- dengan angka,

• angka dengan -an,

• singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan

• nama jabatan rangkap

Misalnya

se-Indonesia, se-Jawa Barat,

hadiah ke-2, tahun 50-an,

mem-PHK-kan, hari-H,

sinar-X, Menteri-Sekretaris Negara

• Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsure bahasa asing. Misalnya:

di-smash

pen-tackle-an


6. Tanda Pisah (—)

a. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat. Misalnya:

• Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

b. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas. Misalnya:

• Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom —telah mengubah persepsi kita tentang alam semesta.

c. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti 'sampai ke' atau 'sampai dengan'. Misalnya:

• 1910—1945

• tanggal 5—10 April 1970

• Jakarta—Bandung

Catatan:

Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.


7. Tanda Elipsis (...)

a. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus. Misalnya:

• Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak.

b. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. Misalnya:

• Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.


Catatan:

Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat. Misalnya:

Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....


8. Tanda Tanya (?)

a. Tanda tanya dipakai pada akhir tanya. Misalnya:

• Kapan ia berangkat?

• Saudara tahu, bukan?

b. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya:

• Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).

• Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.


9. Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. Misalnya:

• Alangkah seramnya peristiwa itu!

• Bersihkan kamar itu sekarang juga!

• Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya!

• Merdeka!


10. Tanda Kurung ((...))

a. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan. Misalnya:

• Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.

b. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Misalnya:

• Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

• Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.

c. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Misalnya:

• Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).

• Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.

d. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan. Misalnya:

• Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.


11. Tanda Kurung Siku ([...])

a. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli. Misalnya:

• Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

b. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung. Misalnya:

• Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II ) perlu dibentangkan di sini.


12. Tanda Petik ("...")

a. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Misalnya:

• "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"

• Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."

b. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya:

• Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.

• Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo.

• Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.

c. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya:

• Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.

• Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".

d. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung. Misalnya:

• Kata Tono, "Saya juga minta satu."

e. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat. Misalnya:

• Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".

• Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.


Catatan:

Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis

sama tinggi di sebelah atas baris.


13. Tanda Petik Tunggal ('...')

a. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. Misalnya:

• Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"

• "Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.

b. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing. Misalnya:

• feed-back → 'balikan'


14. Tanda Garis Miring (/)

a. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. Misalnya:

• No. 7/PK/1973 * Jalan Kramat III/10

• tahun anggaran 1985/1986

b. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap. Misalnya:

• dikirimkan lewat darat/laut → (dikirimkan lewat darat atau laut)

• harganya Rp25,00/lembar → (harganya Rp25,00 tiap lembar)


15. Tanda Penyingkat (Apostrof) (')

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun. Misalnya:

• Ali 'kan kusurati. → ('kan = akan)

• Malam 'lah tiba. → ('lah = telah)

• 1 Januari '88 → ('88 = 1988


B. Penyempurnaan Ejaan

Ejaan-ejaan untuk bahasa Melayu/Indonesia mengalami beberapa tahapan sebagai berikut:

1. Ejaan van Ophuijsen, ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim menyusun ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:

a. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.

b. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.

c. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.

d. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan katakata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dsb.

2. Ejaan Republik, ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan nama ejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:

a. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.

b. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.

c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, kebarat2-an.

d. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.

3. Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)

Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.

4. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), ejaan ini diresmikan

pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.

Indonesia (pra-1972) Malaysia (pra-1972) Sejak 1972

a. tj ch c

b. dj j j

c. ch kh kh

d. nj ny ny

e. sj sh sy

f. j y y

g. oe u u

C. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring

1. Huruf Kapital atau Huruf Besar

a. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. Misalnya:

• Dia mengantuk.

• Kita harus bekerja keras.

• Apa maksudnya?

• Pekerjaan itu belum selesai.

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. Misalnya:

• Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"

• "Kemarin engkau terlambat," katanya.

c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Misalnya:

• Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen

• Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.

• Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Misalnya:

• Sultan Hasanuddin 

• Imam Syafii

• Haji Agus Salim

• Nabi Ibrahim

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang. Misalnya:

• Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

• Tahun ini ia pergi naik haji.

e. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya:

• Wakil Presiden Budiono

• Laksamana Muda Udara Husen Sastranegara

• Perdana Menteri Nehru

• Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian

• Profesor Supomo

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat. Misalnya:

• Siapa gubernur yang baru dilantik itu?

• Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.

f. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Misalnya:

• Amir Hamzah

• Wage Rudolf Supratman

• Dewi Sartika

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama sejenis atau satuan ukuran. Misalnya:

• mesin diesel

• 10 volt

• 5 ampere

g. Huruf kapital sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa. Misalnya:

• bangsa Indonesia

• suku Sunda

• bahasa Inggris

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan. Misalnya:

• meng-indonesiakan kata asing

• keinggris-inggrisan

h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya:

• bulan Agustus

• hari Natal

• bulan Maulid

• Perang Candu

• hari Galungan

• tahun Hijriah

• hari Jumat

• tarikh Masehi

• hari Lebaran

• Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama. Misalnya:

• Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.

• Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

i. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi. Misalnya:

• Asia Tenggara

• Kali Brantas

• Banyuwangi

• Lembah Baliem

• Bukit Barisan

• Ngarai Sianok

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri. Misalnya:

• berlayar ke teluk

• menyeberangi selat

• mandi di kali

• pergi ke arah tenggara

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis. Misalnya:

• garam inggris

• kacang bogor

• gula jawa

• pisang ambon

j. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketata-negaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan. Misalnya:

• Republik Indonesia

• Majelis Permusyawaratan Rakyat

• Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

• Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi. Misalnya:

• menjadi sebuah republic

• kerja sama antara pemerintah dan rakyat

• beberapa badan hokum

• menurut undang-undang yang berlaku

k. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Misalnya:

• Perserikatan Bangsa-Bangsa

• Undang-Undang Dasar Republik Indonesia

• Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial

• Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

l. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Misalnya:

• Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

• Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

• Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.

• Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".

m. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Misalnya:

• Dr. = doctor

• Prof. = profesor

• M.A. = master of arts

• Tn. = tuan

• S.H. = sarjana hokum

• Ny. = nyonya

• S.S. = sarjana sastra

• Sdr. = saudara

n. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungankekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. Misalnya:

• "Kapan Bapak berangkat?" tanya Harto.

• "Silakan duduk, Dik!" kata Ucok.

• Adik bertanya, "Itu apa, Bu?"

• Mereka pergi ke rumah Pak Camat.

• Surat Saudara sudah saya terima.

• Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan. Misalnya:

• Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

• Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

o. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda. Misalnya:

• Sudahkah Anda tahu? * Surat Anda telah kami terima.


2. Huruf Miring

a. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Misalnya:

• majalah Bahasa dan Kesusastraan

• buku Negarakertagama karangan Prapanca

b. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata. Misalnya:

• Huruf pertama kata abad ialah a.

• Dia bukan menipu, tetapi ditipu.

• Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.

c. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Misalnya:

• Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.

• Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.

• Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi 'pandangan dunia'.

Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi satu garis di bawahnya.


D. Angka dan Lambang Bilangan

1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi, antara lain:

• Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

• Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000)

2. Angka digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, berat, luas, isi, satuan waktu, nilai uang, dan kuantitas. Misalnya:

• 0,5 sentimeter

• 5 kilogram

• 4 meter persegi

• 1 jam 20 menit * pukul 15.00

• tahun 1928

• 17 Agustus 1945

Catatan; tanda titik di sini merupakan tanda desimal.

3. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat. Misalnya:

• Jalan Tanah Abang I No. 15

• Hotel Indonesia, Kamar 169

4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci. Misalnya:

• Bab X, Pasal 5, halaman 252

• Surah Yasin: 9

5. Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut:

a. Bilangan utuh. Misalnya:

dua belas = 12

dua puluh dua = 22

dua ratus dua puluh dua = 222

b. Bilangan pecahan Misalnya:

setengah = ½ 

tiga perempat = ¾ 

6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut. Misalnya:

• Paku Buwono X

• pada awal abad XX

• dalam kehidupan pada abad ke-20 ini

• dalam bab ke-2 buku itu

• di tingkat kedua gedung itu

7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti. Misalnya:

• tahun '50-an = (tahun lima puluhan)

• uang 5000-an = (uang lima ribuan)

• lima uang 1000-an = (lima uang seribuan)

8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, sperti dalam perincian dan pemaparan. Misalnya:

• Amir menonton drama itu sampai tiga kali.

• Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.

• Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.

9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat. Misalnya:

• Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.

• Pak Darmo mengundang 250 orang tamu. Bukan:

• 15 orang tewas dalam kecelakaan itu.

• Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.

10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca. Misalnya:

• Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.

• Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.

11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi. Misalnya:

• Kantor kami mempunya dua puluh orang pegawai.

• DI lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.


Bukan:

• Kantor kamu mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.

• Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.

12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.  Misalnya:

• Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).

• Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.


Grammar Bahasa Indonesia - Tata Bahasa

Grammar Bahasa Indonesia - Tata Bahasa


A. Kata Berimbuhan

Kata berimbuhan adalah kata dasar yang diberi imbuhan. Imbuhan ada beberapa macam, antara lain:

1. awalan (prefiks): ber-, ter -, me -, di-, dan ke-

2. akhiran (sufiks): - an, - i, - kan

3. sisipan (infiks): - er - , - el - , dan – em –

4. awalan-akhiran (konfiks): ke – an, me – kan, per – an


Bahasa Indonesia mempunyai banyak awalan, akhiran, maupun sisipan, baik yang asli dari bahasa-bahasa Nusantara maupun dipinjam dari bahasa-bahasa asing, antara lain:

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya:

a. Bacalah buku itu baik-baik.

b. Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.

c. Siapakah gerangan dia?


2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya:

a. Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.

b. Jangan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.


Catatan : Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai. Misalnya:

a. Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.

b. Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.

c. Walaupun miskin, ia selalu gembira.


3. Partikel per yang berarti 'mulai', 'demi', dan 'tiap' ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Misalnya:

a. Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.

b. Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.

c. Harga kain itu Rp 2.000 per helai.


4. Imbuhan -is, -isme, dan –isasi berfungsi sebagai berikut.

a. Membentuk kata benda atau nomina.

b. Sebagian kata sifat yang dihasilkan melalui pengimbuhan dengan ketiga imbuhan tersebut.


Arti baru yang dihasilkan melalui pengimbuhan dengan -is, -isme, dan –isasi adalah:

a. Imbuhan –is;

Orang yang memiliki keahlian; Contoh: gitaris, pianis, komponis.

Orang yang memiliki sifat / jiwa; Contoh: egois, nasionalis, humoris.

b. Imbuhan –isme; berarti paham/ajaran/aliran. Contoh: nasionalisme, komunisme, animisme.

c. Imbuhan –isasi; menunjukkan makna proses. sinestesia.


5. Kata berimbuhan -man, -wan, dan -wati merupakan nomina atau kata benda. Adapun perubahan makna yang diakibatkan pengimbuhan dengan -man, -wan, dan –wati sebagai berikut.

a. Menunjuk bidang pekerjaan orang yang disebut. Contoh : Pabrik sepatu itu memberikan cuti kepada karyawati yang hamil.

b. Menunjuk sifat orang yang disebut. Contoh : Korban gempa di Bengkulu menunggu kedatangan relawan ke sana.

c. Menunjuk keahlian yang ditekuni orang yang disebut. Contoh : Dua olahragawan mendapat penghargaan dari pemerintah.


6. Fungsi utama awalan me- adalah membentuk kata kerja. Adapun arti awalan me- adalah sebagai berikut.

a. Melakukan pekerjaan; Contoh: Ida membaca naskah drama. (melakukan pekerjaan membaca)

b. Mengeluarkan; Contoh: Anjing menggonggong. (mengeluarkan gonggongan)

c. Menjadi; Contoh: Sobekan di celananya melebar. (menjadi lebar)

d. Menyerupai; Contoh: Karena tidak memerhatikan lingkungan, sampah di kota ini menggunung. (menyerupai gunung)

e. Menuju ke; Contoh: Garuda Indonesia mendarat di Bandar Udara Adisutjipto. (menuju ke darat)


B. Penulisan Kata

1. Kata Dasar adalah satuan bahasa terkecil yang memiliki makna. Kata tersebut belum mengalami penambahan atau perubahan bentuk yang mengakibatkan perubahan makna. Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Misalnya:

a. Ibu percaya bahwa engkau tahu.

b. Kantor pajak penuh sesak.

c. Buku itu sangat tebal.


2. Kata Turunan adalah kata baru yang diturunkan dari kata dasar yang mendapat imbuhan.

a. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Misalnya: bergeletar, menengok, dikelola, mempermainkan dan penetapan

b. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Misalnya: bertepuk tangan, menganak sungai, garis bawahi dan sebar luaskan

c. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya: menggarisbawahi, dilipatgandakan, menyebarluaskan dan penghancurleburan

d. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya:

adipati mahasiswa ekawarna saptakrida

aerodinamika mancanegara dwiwarna reinkarnasi

antarkota multilateral demoralisasi purnawirawan

anumerta narapidana dekameter prasangka

audiogram nonkolaborasi dasawarsa pramuniaga

awahama Pancasila ekstrakurikuler semiprofesional

bikarbonat panteisme elektroteknik subseksi

biokimia paripurna infrastruktur swadaya

caturtunggal poligami introspeksi transmigrasi

Catatan:

Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-). Misalnya:

• non-Indonesia

• pan-Afrikanisme

Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah. Misalnya:

• Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

• Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.


3. Kata Ulang adalah Kata jadian yang terbentuk dengan  pengulangan kata. Kata ulang dapat dikelompokan menjadi:

a. Kata ulang utuh murni: rumah-rumah, anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, siasia, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra, dst.

b. Kata ulang sebagian: berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, dst.

c. Kata ulang berimbuhan: rumah-rumahan, anak-anakan, kuda-kudaan, dst.

d. Kata ulang suku depan: pepohonan, leluhur, lelaki, dst

e. Kata ulang berubah bunyi: gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, dst.

Fungsi Gramatik kata ulang antara lain:

a. Membentuk adverbia: sebaik-baiknya, secantik-cantiknya, sehebat-hebatnya, dst

b. Membentuk Nomina: Kuda-kudaan, rumah-rumahan, dst

c. Membentuk Ajektif: pening-pening, pusing-pusing, dst

d. Membentuk Verba: hormat-menghormati


4. Kata Depan. Kata depan merupakan kata yang bertugas menghubungkan kata atau bagian kalimat.Yang termasuk kata depan adalah: di, ke , dari, pada, daripada.


5. Kata Sambung. Kata sambung merupakan kata yang berfungsi untuk menyambung kalimat atau anak kalimat


C. Singkatan dan Akronim

1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Misalnya:

• A.S. Kramawijaya

• Muh. Yamin

• Suman Hs.

• Sukanto S.A.

• Bpk. = Bapak

• Sdr. = saudara

• Kol. = Kolonel

• M.B.A. = master of business administration

• M.Sc. = master of science

• S.E. = sarjana ekonomi

• S.Kar. = sarjana karawitan

• S.K.M. = sarjana kesehatan masyarakat


b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik. Misalnya:

• DPR = Dewan Perwakilan Rakyat

• PGRI = Persatuan Guru Republik Indonesia

• PT= Perseroan Terbatas

• GBHN = Garis-Garis Besar Haluan Negara

• KTP = Kartu Tanda Penduduk

• SMTP = Sekolah Menengah Tingkat Pertama


c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Misalnya:

• dll. = dan lain-lain 

• dsb. = dan sebagainya

• dst. = dan seterusnya

• hlm. = halaman

• sda. = sama dengan atas

• Yth. = Yang terhormat

• a.n. = atas nama

• d.a. = dengan alamat

• u.b. = untuk beliau

• u.p. = untuk perhatian

• s.d.= sampai dengan


d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya:

• Cu = kuprum 

• TNT = trinitrotoluen

• cm = sentimeter

• kVA =kilovolt-ampere

• l = liter

• kg = kilogram

• Rp (5.000,00) = (lima ribu) rupiah


2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.

a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya:

• ABRI = Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

• LAN = Lembaga Administrasi Negara

• PASI = Persatuan Atletik Seluruh Indonesia

• IKIP = Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan

• SIM = Surat Izin Mengemudi

b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital. Misalnya:

• Akabri = Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

• Bappenas = Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

• Iwapi = Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia

• Kowani = Kongres Wanita Indonesia

• Sespa = Sekolah Staf Pimpinan Administrasi

c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Misalnya:

• pemilu = pemilihan umum

• radar = radio detecting and ranging

• rapim = rapat pimpinan

• rudal = peluru kendali

• tilang = bukti pelanggaran

Catatan:

Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut:

Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazin pada kata Indonesia

Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.


Sejarah dan Fungsi Bahasa Indonesia

Sejarah dan Fungsi Bahasa Indonesia

1. Sejarah bahasa Indonesia.

Bahasa indonesia adalah dialek (Variasi Bahasa) kaku dari bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. 

Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap “lahir” atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928 atas usulan Mohammad Yamin. Secara yuridis (Menurut Hukum), baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya.tepatnya pada saat hari Kemerdekaan Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata ganti orang pertama jamak, yaitu “kami” dan “kita”.

“Kami” adalah kata ganti eksklusif yang berarti tidak termasuk sang lawan bicara, sedangkan 

“kita” adalah kata ganti inklusif yang berarti kelompok orang yang disebut termasuk lawan bicaranya.

Susunan kata dasar adalah Subjek – Predikat – Objek-Keterangan (SPOK),

walaupun susunan kata lain juga mungkin. Kata kerja tidak di bahasa berinfleksikan kepada orang atau jumlah subjek dan objek. Bahasa Indonesia juga tidak mengenal kala/waktu (tense). Waktu dinyatakan dengan menambahkan kata keterangan waktu (seperti, “kemarin” atau “besok”), atau indikator lain seperti “sudah” atau “belum”.Dan Bahasa Indonesia di atur dalam UUD 1945 pada pasal 36 yaitu “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”. 


2. Kedudukan bahasa Indonesia 

sebagai bahasa Nasional di ikrarkan pada 28 oktober 1928 yaitu hari “Sumpah Pemuda” yang memilki fungsi- fungsi sebagai;

1. Lambang identitas Nasional.

2. Lambang kebanggaan kebangsaan.

3. Bahasa indonesia sebagai alat komunikasi.

4. Alat pemersatu bangsa yang berbeda Suku,Agama,ras,adat istiadat dan Budaya.

Hasil perumusan seminar polotik bahasa Nasional

yang diselenggarakan di jakarta pada tangal 25

s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan berdasarkan

Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara adalah;

1. Sebagai bahasa resmi kenegaraan.

2. Sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan.

3. Sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, dan 

4. Sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu dan Teknologi.


3. Berdasarkan fungsinya bahasa Indonesia dibagi menjadi 5 fungsi;

1. Ekspresif : tepat (mampu) memberikan (mengungkapkan) gambaran, maksud, gagasan, perasaan.

Contohnya;

mampu menggungkapkan gambaran,maksud ,gagasan, dan perasaan.

2. Komunikasi : pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yg dimaksud dapat dipahami.

Contohnya;

sebagai alat berinteraksi atau hubungan antara dua manusia dan sehingga pesan yang dikmaksudkan dapat dimengerti.

3. Kontrol social : Pengendalian yangg berkenaan dengan masyarakat.

contohnya; 

tulisan “dilarang merokok” bahasa tersebut berfungsi sebagai pengatur atau pengontrol

4. Adaptasi : Penyesuaian

Contohnya;

bila kita berada di wilayah atau daerah yang asing atau diluar ibu kota, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia tersebut sebagai alat untuk adaptasi dengan lingkungan baru tersebut.

5. Integrasi : pembauran hingga menjadi kesatuan yg utuh atau bulat (pemersatu).

Contohnya;

bahasa-bahasa yang berbeda atau beraneka ragam dan dipersatukan oleh bahasa Nasional yang dapat dipakai di seluruh Indonesia yang menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat.

FUNGSI BAHASA

FUNGSI BAHASA

1. Fungsi Komunikasi

Sudah dikemukakan bahwa bahasa adalah produk dan milik masyarakat. Warga masyarakat pasti memerlukan komunikasi antarwarga. Salah satu alat yang utama adalah bahasa. Karena itu dapat dikatakan bahwa fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat komunikasi. Setelah itu bahasa diberi fungsi-fungsi lain oleh masyarakat atau kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Fungsi komunikasi memang bukan monopoli bahasa, bahkan bukan monopoli manusia. Binatang juga mempunyai alat untuk berkomunikasi. Kita melihat semut yang mampu mengumpulkan “pasukan” ke suatu tempat tertentu. Lebah dapat membentuk masyarakat dibawah pimpinan induk lebah di sarang dan sekian banyak lebah pencari bahan madu. Anjing yang dipelihara manusia di rumah, pada suatu malam mungkin menggonggong untuk mengingatkan tuannya akan adanya orang yang datang bertamu atau adanya pencuri, atau mungkin menggaruk-garuk daun pintu untuk meminta masuk ke dalam rumah.

Manusia sejak lama mengenal bunyi untuk berkomunikasi. Dalam film cerita tentang orang-orang primitif (Indian, Afrika) kita mengenal siulan atau teriakan (atau suara-suara lain yang bisa diproduksi oleh mulut) sebagai alat komunikasi. Masyarakat kita mengenal kentungan, bahkan sampai sekarang. Pada zaman modern kita mengenal bunyi sirene untuk ambulan atau petugas jalan raya dan polisi, sekadar untuk memberitahu kepada pendengarnya akan adanya ini atau itu. Semua ini untuk konsumsi indera pendengaran.

Untuk indera penglihatan, manusia mengenal beberapa alat komunikasi. Lampu suar di pantai atau di laut memberi tahu para pelaut akan adanya daratan atau kondisi laut tertentu. Di kota kita memakai lampu lalu lintas berwarna merah, hijau, dan kuning. Di kalangan pramuka kita juga mengenal sandi-sandi tertentu yang dapat dilihat.

Ketika manusia sudah mengenal tulisan, tampak komunikasi makin efektif. Dengan tulisan manusia tidak hanya mampu berkomunikasi dengan manusia lain yang masih hidup, dalam satu generasi, melainkan juga dengan generasi berikutnya. Dengan tulisan itu manusia generasi tua “menyimpan” bahasa, dan kelak, ketika mereka sudah lama meninggal, generasi-generasi muda dapat mengetahui apa yang dimaksudkan oleh nenek moyangnya. Maka, penemuan tulisan merupakan karya besar manusia yang patut dipuji.

Dari tulisan itu, manusia lalu menciptakan sandi-sandi “turunan kedua” (turunan pertama adalah dari bahasa lisan ke tulisan). Kita mengenal apa yang disebut sandi atau kode Morse, yang banyak dipakai di kalangan militer dan pelaut. Dalam sandi Morse itu huruf-huruf abjad itu disulih (diubah) menjadi bunyi “tut-tut-tut”. Kemudian kita mengenal huruf Braille yang dipakai oleh para tunanetra. Dalam huruf ini huruf-huruf abjad disulih menjadi “titik-titik” tonjolan di kertas yang dengan mudah dapat diraba oleh ujung jari.

Sayang sekali, tulisan itu mengandung kelemahan, yaitu tidak selalu mampu menggantikan bahasa lisan secara utuh dan tuntas. Meskipun tulisan itu kemudian dilengkapi dengan tanda-tanda baca yang lain (seperti titik, koma, tanda tanya, dan sebagainya) kelemahan itu tetap ada. Misalnya, tulisan tidak mampu merekam intonasi, jeda, tekanan kata, dan sebagainya. Suara-suara desis, decak, rintihan, dan sebagainya, juga tidak dapat disulih dengan tulisan secara tuntas.

Syukurlah, manusia kemudian mengenal alat perekam suara, sehingga bahasa lisan dapat disimpan dalam bentuk bunyi-bunyi sebagaimana aslinya, bukan dalam huruf atau gambar. Kemajuan manusia dalam ilmu dan teknologi kemudian menciptakan apa yang sering disebut “alat komunikasi” seperti telepon, telegram, teleks, faksimil, dan internet. Semua alat ini hakikatnya mengubah komunikasi tatap muka menjadi komunikasi jarak jauh, tetapi kuncinya tetap ada pada bahasa lisan.


2. Fungsi Kemasyarakatan

Fungsi komunikasi bahasa jelas merupakan fungsi dasar bahasa, atau fungsi alami (natural). Di dalam kajian sosiolinguistik, yang menghubungkan faktor-faktor sosial dengan unsur-unsur bahasa atau gejala bahasa, kita kemudian mengenal fungsi-fungsi lain yang seolah-olah “diberikan” manusia di luar fungsi komunikasinya. Di Indonesia kita mengenal ungkapan “bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa”, sebagai alat identitas bangsa yang berbeda dengan bahasa daerah yang menjadi alat identitas kedaerahan. Pada masa lampau bahasa Indonesia (BI), ketika masih bernama bahasa Melayu, sudah menjadi alat komunikasi antarsuku di Indonesia. Pada awal abad ke-20 BI “dipakai” oleh para pemimpin kita sebagai alat politik, yaitu alat perjuangan untuk mempersatukan bangsa kita (1928), dan fungsi itu dilanjutkan sampai sekarang. Konsekuensi dari pemungsian sebagai alat pemersatu itu orang Indonesia yang tadinya hanya mengenal bahasa daerahnya harus belajar BI, suatu hal yang tidak perlu dilakukan andaikata BI tidak diberi fungsi meyatukan bangsa.

Sebenarnya setiap bahasa alami, tiap bahasa ibu (yaitu bahasa yang kita kuasai sejak kecil) sudah membawa atau mengandung fungsi pemersatu dan fungsi identitas. Artinya, tiap bahasa yang dipakai sehari-hari oleh seorang penutur merupakan jati diri atau identitasnya. Maka, semua penutur asli (native speaker) bahasa Madura, misalnya, dipersatukan oleh bahasa itu  dan kemudian disebut “orang Madura”. Akibatnya, seorang yang menyebut dirinya sebagai “orang Madura” dianggap kurang jika dia tidak mampu berbahasa Madura. Hanya saja perlu diingat bahwa fungsi pemersatu itu sekaligus juga mengandung fungsi pemisah (separatis). Artinya, sekali Anda berkata “ Saya orang Madura” dan dengan demikian juga penutur asli bahasa Madura, maka Anda sebenarnya sudah memisahkan diri dari orang-orang lain yang bukan anggota kelompok Madura. Anda memisahkan diri dari orang Bali, orang Jawa, orang Sunda, dan sebagainya. Bahasa memang milik kelompok dan menjadi identitas dari kelompok itu.

Dari kajian sosiolinguistik kita ketahui bahwa pengenalan terhadap seseorang, tepatnya terhadap identitas seseorang, dapat dilakukan dengan melihat bahasa atau ragam bahasa yang digunakan dalam percakapan, terutama percakapan dengan orang atau kelompok lain. Seseorang bisa diterka sebagai orang Madura, oleh orang Jawa, misalnya dari intonasi tuturnya, meskipun orang tersebut bertutur dalam bahasa Indonesia. Orang Bali bisa diidentifikasi karena ucapan bunyi /T/ (pangkal gigi) untuk /t/ (dental). Orang Jawa bisa dikenali karena tuturnya yang amat lamban (dibandingkan dengan rata-rata ujaran orang Batak). Dalam hal seperti itu, yakni mengidentifikasi seseorang lewat ujaran atau tuturnya dalam bahasa kedua (dalam hal ini bahasa Indonesia), kita seperti tidak mengakui ungkapan “bahasa menunjukkan bangsa”. Namun, sebenarnya yang diidentifikasi ketika orang itu bertutur adalah ciri-ciri bahasa ibunya (dalam hal ini adalah bahasa daerahnya) yang dibawa oleh orang yang bersangkutan ketika prang itu bertutur dalam bahasa lain. Itu berarti, identitasnya sebagai orang daerah dan sebagai penutur bahsa asli dapat diketahui dari tuturnya dalam bahasa lain.

Jika, misalnya, orang Bali berbahasa Bali pun kita bisa mengidentifikasi asal-usul daerahnya, karena bahasa Bali mempunyai beberapa dialek geografis. Tiap-tiap dialek tertentu mempunyai ciri pembeda dengan dialek lain, sehingga penggunaan satu ciri saja dari dialek itu kita sudah bisa menetukan dari daerah mana dia berasal. Ciri itu bisa berupa sekadar intonasi atau lagu bicara, fonem, kata, atau frase.

Dibalik bahasa sebagai alat pemersatu, kita pun mengenal bahasa sebagai alat penjajahan. Di Indonesia, bahasa Belanda mempunyai fungsi seperti tiu di masa penjajahan, di India dan Malaysia bahasa Inggris, di beberapa negara Afrika bahasa Prancis, di negara-negara Amerika Latin bahasa Spanyol berfungsi sebagai bahasa penjajahan. Akibat dari fungsi itu pada masa lampau masih terasakan sampai sekarang di banyak negara. Di Afrika, misalnya, beberapa negara menjadikan bahsa Prancis sebagai bahasa nasional. Di India dan Filipina bahasa Inggris menjadi bahasa resmi. Berbeda dengan Indonesia, BI ternyata mampu diberi fungsi sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi itu. Fungsi demikian tidak diberlakukan pada bahasa daerah: bahasa daerah tetap menjadi alat identitas suku.

Di samping itu semua, disadari atau tidak, bahasa juga berfungsi atau difungsikan untuk tujuan-tujuan tertentu. Misalnya, untuk menyerap dan mengembangkan ilmu dan teknologi, untuk melestarikan budaya dan nilai-nilai sosial (social value), dan sebagainya. Dalam hubungannya dengan pengembangan ilmu dan teknologi, bahasa jelas sangat erat berkaitan dengan pikiran. Kalau Aristoteles berkata bahwa bahasa adalah alat untuk mengungkapkan pikiran, maka para perencana bahasa justru berpikir untuk bahasa dan pengembangannya. Bahkan kita mengenal apa yang disebut hipotesis Sapir Whorf (dari pakar bahasa Edward Sapir dan Benjamin L. Whorf) yang mengatakan bahwa bahasa ibu menentukan struktur pikiran manusia penuturnya. Tidak hanya itu, bahasa menjadikan pikiran manusia “makin pandai”: bahasa meningkatkan kualitas pikiran dan logika manusia. Ini juga merupakan fungsi tersendiri bagi bahasa.


3. Fungsi-Fungsi Lain

Karl Bühler

Sarjana Jerman ini membedakan tiga fungsi bahasa (Kleden, 1987):

Appel, yaitu fungsi memerintah atau meminta kepada lawan bicara untuk melakukan sesuatu. Dalam bentuk yang paling sederhana fungsi ini tampak pada komandan pasukan yang memberi aba-aba “bersiap”. Contoh lain: instruksi pejabat, bahasa hukum (yang bisa memerintah dan melarang), dalam UU, PP, dan sebagainya.

Ausdrück, fungsi untuk mengungkapkan suasana hati penutur, jadi bukan untuk berkomunikasi. Contohnya: Aduh! Wauw!

Darstellung, bahasa berfungsi mengacu objek tertentu yang berada di luar diri penutur dan lawan tuturnya, fungsinya mengacu dan menjelaskan. Puncak bahasa jenis ini adalah bahasa analitis yang digunakan dalam ilmu.

Karl Raimund Popper

Filosof kenamaan ini mengemukakan empat fungsi bahasa, yakni:

Fungsi ekspresif, merupakan proses pengungkapan situasi dari dalam ke luar; merupakan ungkapan diri pribadi.

Fungsi sinyal, derajatnya lebih tinggi dari yang pertama, sekaligus mencakup fungsi ekspresif. Pada manusia, sinyal itu menyebabkan reaksi (pada lawan tutur)sebagai jawaban atas sinyal itu.

Fungsi deskriptif, mencakupi dua fungsi di atas, mengungkapkan pernyataan yang bisa benar atau salah.

Fungsi argumentative, menambah keterangan pada ketiga fungsi di atas, memberikan lasan atau argumen sebagai pembuktian yang menyatakan bahwa ungkapanyang disampaikan, dinyatakan, dikemukakan itu merupakan sinyal yang benar atau salah karena alasannya memang sah atau tidak sah.

John C. Concon Jr

J. C. Concon (1986) mengemukakan delapan fungsi komunikasi untuk apa yang selama ini yang kita sebut fungsi bahasa, sebagai berikut:

Membuka pembicaraan

Ujaran singkat, memberi salam, percakapan tanpa tujuan, merupakan contoh-contoh jenis komunikasi ini, yang oleh Malinowski disebut “basa-basi untuk membuka percakapan”, fungsinya untuk membuka saluran komunikasi. Dalam masyarakat berbahasa Inggris, orang biasa membuka percakapan di tempat umum dengan berbicara tentang keadaan cuaca, “Oh nice day!” (Hari yang cerah); menyapa dengan Good Morning; menyebut How are you? ketika bertemu teman. Orang Indonesia sekarang mengenal juga salam seperti Selamat pagi; Apa kabar? Di terminal atau di stasiun ada ucapan Mau ke mana? Atau, Dari mana? Orang laki-laki biasa memulai komunikasi dengan menawarkan rokok, Merokok, Mas?

Membuka percakapan jelas merupakan fungsi sosial bahasa. Manusia adalah makhluk sosial, yang selalu memerlukan orang lain. Karena itu, jika di suatu tempat dia tidak mempunyai teman atau kenalan, dia akan mencoba mencari kenalan, setidak-tidaknya mencari orang yang dapat diajak bicara. Untuk maksud itu, dia akan memulai berbicara, mungkin dengan menyatakan, seperti orang Barat, “Oh, nice day!”, dengan harapan ujarannya ditanggapi orang-orang di dekatnya, atau mungkin, seperti kebiasaan orang Indonesia, bertanya langsung kepada orang yang sudah ada di tempat itu. Kalau kebetulan di ruang tunggu dokter, dia akan bertanya, “Nomor berapa, Bu?” Ujaran tersebut sebenarnya cuma basa-basi saja agar bisa lebih lanjut bercakap-cakap. Dapat dipastikan, dia selanjutnya akan bertanya ini itu: sakit apa, tinggal dimana, dan seterusnya.

Menghindarkan komunikasi

Bertentangan dengan fungsi pertama adalah fungsi menghindarkan komunikasi ini. Orang kadang-kadang memang mencegah komunikasi, atau bermaksud menghentikan komunikasi dengan cara-cara tertentu agar lawan tutur tidak berbicara lagi. Kita dalam hal itu secara tidak langsung mengatakan, “Saya tak mau lagi berbicara dengan Anda” melainkan dengan cara seperti, misalnya, menanggapi dengan “Oh, ya?”, “Hmm”, “Masak?” Mungkin juga dengan berkata, “Maaf, saya ada acara lain.”

Mencatat dan meneruskan

Pada dasarnya individu itu bertindak seperti mesin yang berfungsi mencatat dan meneruskan berita. Salah satu definisi komunikasi adalah proses untuk meneruskan suatu informasi, kemudian meneruskan kepada orang lain. Begitulah bahasa.

Komunikasi instrumental

Jika kita mengatakan sesuatu dan sesuatu terjadi sebagai akibat ucapan kita itu, maka ucapan kita itu bersifat instrumental, menjadi instrumen (alat) penyebab terjadinya peristiwa itu. Fungsi instrumental semacam itu kita lihat, misalnya, pada perintah atau permintaan, “Tutup pintunya!” Atau berupa peringatan , “Hujan, hujan, lekas masuk!”, dan sorak-sorai penonton sepak bola, “Tembak, tembak, ayo tembaaaaak.”

Komunikasi afektif

Komunikasi yang beritanya merupakan perasaan emosional penutur terhadap lawan tutur disebut komunikasi afektif, misalnya pujian, rayuan, dan sebagainya. Contoh: “Wah, hebat kau!”, “Kau cakep kalau memakai baju ini.” Bahasa afektif juga sangat meyakinkan, kemudian menggerakkan lawan tuturnya: pedagang, secara langsung atau melalui iklan, meyakinkan calon pembeli (sekaligus membujuk), “Untuk Anda saya memberikan harga istimewa” atau “Kami lebih mementingkan kepuasan Anda.” Seorang dosen kepada mahasiswanya akan berujar, “Saya yakin penelitian Anda akan bagus hasilnya.” Kita lihat bahwa bahasa afektif bayak dipakai untuk komunikasi instrumental.

Melepaskan tekanan perasaan

Tahayul

Fungsi ritual


 

 

 

 

 

 

 Bimbel Aqila Magelang

Bimbel Aqila Magelang

Offline di Magelang
Online di Indonesia

Tanjunganom Banjarnegoro Mertoyudan Magelang
WhatsApp 085640451319
Daftar Video dan Modul Belajar Lainnya bisa di download di Aplikasi Klik Disini
Daftar Harga Les di Bimbel Aqila Magelang
 

Bimbel SD 8 Sesi


  • Privat di Bimbel - Rp 240K
  • Privat di Rumah - Rp 280K
  • Private Online - Rp 280K
  • Kelompok di Bimbel - Rp 100K 

 

Bimbel SMP 8 sesi


  • Privat di Bimbel - Rp 280K
  • Privat di Rumah - Rp 320K
  • Privat Online - Rp 280K
  • Kelompok di Bimbel - Rp 115K 

 

Bimbel SMA 8 Sesi


  • Privat di Bimbel - Rp 400K
  • Privat di Rumah - Rp 400K
  • Privat Online - Rp 400K
 
SBMPTN - UTBK - Saintek - 17 Sesi
Privat di Bimbel / Online - Rp 1.360K


SBMPTN - UTBK - Soshum - 12 Sesi
Privat di Bimbel / Online - Rp 1.200K

Privat Mengaji
  • di Bimbel Rp 20K/45 menit
  • di Rumah Rp 35K/45 menit
 
Pendaftaran - Rp 50K
WhatsApp 085640451319

 

 
 
 

Aplikasi Absen Bimbel

Aplikasi Android Absensi sederhana untuk Les di Bimbel maupun Privat di rumah dilengkapi Notifikasi dalam bentuk WhatsApp ke Ortu.
Absen dilakukan oleh Tutor dengan memilih Siswa, lalu bisa ditambahkan keterangan baik Nilai Proses, Materi atau repot apa yang terjadi selama les.
 
Fungsi
  • Rekap Bulanan Absen per Tutor bisa digunakan sebagai acuan penggajian
  • Rekap Absen per Siswa bisa digunakan sebagai acuan pembayaran
  • Rekap Absen Harian
  • Notifikasi dalam bentuk WhatsApp ke Ortu dan Siswa lengkap dengan Keterangan seperti Nilai Proses atau Materi yang di input oleh tutor saat Absen.
  • Eksport data Absen per Siswa atau Tutor dalam bentuk Text lebih mudah tanpa harus buka di excel.
Digunakan untuk
  • Bimbel yang membutuhkan Rekapitulasi Absen untuk melengkapi kegiatan Les.
  • Bimbel yang belum memiliki Komputer dan Wifi karena semua kegiatan cukup dilakukan dengan HP.
Kelemahan
  • Hanya tersedia di HP Android
  • Belum bisa Import data secara langsung, Untuk itu Kami bisa bantu Import apabila lebih dari 30 siswa. Gratis untuk sekali Import yaa.., Selanjutnya ada Biaya 50 ribu per sekali Import. Syarat! sudah dalam bentuk excel file kirimkan melalui WhatsApp.
 
Contoh Aplikasi Download dan Install 
 
Mencoba Login jadi Admin
  • Nomor HP Bimbel 012345678910
  • Nomor HP 012345678910
  • Password 12345
 
Login Jadi Tutor
Untuk mencoba menjadi Tutor silahkan input data Tutor dengan Data diri Anda Sendiri dan silahkan login dengan HP lain.
Untuk mencoba jadi siswa silahkan input data siswa dengan Nomor HP lain (Siswa Tidak perlu Install).
 
Video Penjelasan Klik Disini
 

Ada 2 Paket Pembelian yang bisa dipilih

 
Paket Ekonomis, 
 
  • Rp 100 ribu 
  • Sudah termasuk Kuota 3000 Notifikasi WA
  • Selanjutnya Rp 20 per Notifikasi WA
  • memakai Aplikasi yang sudah ada.
 
Aplikasi Server WhatsApp Mandiri,
 
  • Harga 3 jt
  • Sudah termasuk Kuota 20.000 Notifikasi WA
  • Sudah termasuk HP untuk Server (Harga HP sekitar 1,3 jt an)
  • Selanjutnya Rp 10 per Notifikasi WA untuk biaya database.
  • Dengan adanya server WhatsApp sendiri, Chat WA Masuk bisa terpantau di Komputer.
  • lama pembuatan 15 s.d. 30 hari.
  • Syarat menyediakan HP Android os.7.+ yang akan hidup 24 jam online di lokasi Anda sendiri yang bertugas menerima data dan mengirim dalam bentuk WhatsApp.
  • Video Penjelasan Server WA Klik Disini
 
Asumsi Biaya Notifikasi
  • Untuk Bimbel 50 siswa biaya Notif WA Bulanan sekitar Rp 12 ribuan. 
 
WhatsApp 081391005464
 
 
 
  

Aplikasi Bimbel

 
Fungsi Utama
  • Database Siswa dan Tutor.
  • Pencatatan Kehadiran, Pembayaran, Jadwal dan Nilai.
  • Admin buka dalam bentuk Website, Untuk Siswa dan Tutor buka di Aplikasi Android.
  • Pencarian Cepat Status Siswa (Menunggak Bayar dan Hadir Terakhir Kapan).
  • Absen Siswa dilakukan di HP Tutor (Login), dan akan dikirimkan Notif ke Ortu bahwa siswa telah hadir, begitu pula dengan Pembayaran dan Nilai.
  • Broadcast Info seperti Jadwal, Tidak masuk Les dll.
 
Ada 2 Paket yg bisa dipilih 
  • Aplikasi Go Bimbel - Harga Rp 300 ribu
  • Aplikasi Android dengan Nama Bimbel Sendiri - Harga 1,3 juta - lama pembuatan 15 harian
 
Contoh Aplikasi Bimbel untuk Simulasi
Admin, Ketik contohadmin.aqilacourse.net dengan Google Chrome di Laptop
Nomor HP  1   Password 1
 
Siswa dan Tutor. buka di Aplikasi Androidnya Download dan Install
 
Biaya Berjalan
  • Biaya Tahunan Rp 100 ribu
  • Biaya Info Rp 20/kirim (Optional)
Video Penjelasan Penggunaan Klik Disini
 
Setelah Pembayaran
Anda akan mendapat Akun ke gobimbel.net dan  Aplikasi Android Go Bimbel
 
WhatsApp 081391005464
 
 
 
 

Aplikasi Admin Rental Mobil

 
Fungsi :
  • Booking Mobil oleh Admin / Agen
  • Data Mobil Keluar Hari ini
  • Pencarian Mobil yg Ready
  • Rekap Setoran Harian, Rekap Bulanan
  • Bisa dibuka di Banyak HP dgn Data yg Sama
 
Download Aplikasi Administrasi Rental Mobil - Klik Disini
  
Coba Login jadi Admin
  • HP Pemilik 012345678910
  • Nomor HP 012345678910
  • Password 12345
 
Harga
  • Memakai Aplikasi yg sudah ada Rp 400 rb akan mendapatkan Akun untuk Login Jumlah Mobil dan Agen tidak terbatas.
  • Aplikasi Sendiri dengan Nama Rental Sendiri Rp 2,5 juta (Lama pembuatan sekitar 15 hari)
  • Aplikasi Master bisa menjual lagi Akun di dalam Aplikasi Rp 7 juta (lama pembuatan sekitar 30 hari)
 
Info Lengkap - Klik Disini
WhatsApp 081391005464
 
 
 
 

Modul Bimbel Kurikulum Merdeka Download Gratis dalam bentuk PDF

Modul Bimbel Kurikulum Merdeka Download Gratis dalam bentuk PDF Tidak perlu basa-basi langsung klik aja link-link berikut, file ada di Googl...

Arsip Blog